Harga Bitcoin Pada Hari Ini Kembali Turun Ke US$ 46.000

Harga Bitcoin Pada Hari Ini Kembali Turun Ke US$ 46.000

Postpopuler.comHarga Bitcoin Pada Hari Ini Kembali Turun Ke US$ 46.000 – Harga crypto currency atau mata uang Bitcoin kembali dalam tren melemah. Bagaimana harga bitcoin hari ini dan pada priode mendatang?

Sebulan terakhir rupanya bukan jadi priode yang baik bagi Bitcoon. Dalam kurun waktu tersebut, harga uang Bitcoin yang merupakan aset kripto dengan kapitalisasi terbesar tersebut terus berada dalam tekanan.

Merujuk Coinmarketcap, pada 11 November silam, harga uang kripto Bitcoin berada di level US$ 68.365 per BTC. Namun, pada hari Minggu (12/12) pukul 10.15 WIB, harga Bitcoin terjungkal di level US$ 49.102 per BTC. Artinye, Bitcoin sudah melemah 28,18% dalam priode tersebut.

Pada perdangan Selasa (14/12) pukul 07.16 WIB, Coinmarketcap mencatat harga Bitcoin anjlok. Harga uang kripto Bitcoin, yang merupakan crypto currency dengan market cap terbesar, berada di level US$ 46.534,37. Dalam 24 jam terakhir, harga Bitcoin merosot 7,31% dalam 7 hari perdagangan, harga Bitcoin melemah 7,95%.

Penurunan harga juga terjadi pada uang kripto lain yang berada di kelompok 5 besar market cap. Harga Ethereum (market cap terbesar kedua) di level US$ 3.778,40, turun 8,78% dalam 24 jam terakhir. Dalam 7 hari perdangan, harga Ethereum turun 12,94%.

Baca Juga:

Harga Binance coin (market cap terbesar ketiga) di level US$ 519,63, turun 9,30% dalam 24 jam perdagangan. Selama 7 hari perdagangan, harga Binance Coin merosot 11,06%.

Harga Tether (market cap terbesar keempat) di level US$ 1, turun 0,12% dalam 24 jam perdangan. Dalam 7 hari perdangan, harga Tather turun 0,04%.

Harga Solana (market cap terbesar kelima (market cap terbesar kelima) di level US$ 154,11 melemah 10,95% dari sehari sebelumnya. Selama 7 hari perdagangan, harga Solana anjlok 20,61%.

Co-founder CryptoWatch dan pengelola Channel Duit Pintar Christopher Tahir mengatakan, ada dua faktor utama yang menyebabkan koreksi harga Bitcoin pekan lalu.

Pertama adalah potensi percepatan tapering dan kenaikkan suku bunga acuan dari The Fed. Kedua, adanya potensi terseretnya Tether dalam kasus Evergrande, raksasa properti China yang baru saja diumumkan default.

“Tapi, kedua sentimen ini sebenarnya hanyalah noise yang dibuat oleh pasar. Pasalnya, jika dilihat data, akumulasi justru masih dilakukan oleh beberapa pihak whales,” kata Christoper ketika dihubungi Kontan.co.id Jumat (10/12).

Sumber : investasi.contan.co.id.

You May Also Like

About the Author: Ramdan

Leave a Reply

Your email address will not be published.